Bikin Heboh! Sekolah Ini Minta Siswanya Angkat Baju Untuk Memeriksa Pakaian Dalam

Posted on

Sebuah sekolah di Jepang mendapat kritik keras lantaran meminta siswa mengangkat baju untuk memeriksa pakaian dalam mereka.

Melansir VICE World News, Rabu (15/9/2021), pihak sekolah meminta maaf atas apa yang disebut sebagai cara “tidak pantas” memeriksa kaus dalam siswa.

Pihaknya juga menangguhkan praktik puluhan tahun tersebut. Saat semester baru dimulai minggu lalu, siswa tahun pertama di SMP Yamato di prefektur barat daya Saga, diminta berbaris.

Kala itu, para siswa diarahkan menjalani pemeriksaan yang mengonfirmasi bahwa mereka mengenakan kaus dalam seperti yang dipersyaratkan sekolah.

Guru dari jenis kelamin yang sama memimpin pemeriksaan tersebut, meminta siswa perempuan mengangkat baju mereka beberapa sentimeter, sementara murid laki-laki membuka kancing baju.

Menyusul laporan tersebut, kepala sekolah Kenji Koga meminta maaf pada siswanya dan mengirim surat permintaan maaf pada wali mereka.

“Saya mengerti kami membuat banyak orang merasa tidak nyaman, dan kami tidak menunjukkan penghargaan yang cukup untuk hak individu dan privasi setiap siswa. Itu tidak pantas,” katanya.

Dewan pendidikan kota Saga, lokasi SMP Yamato, menerima keluhan menyusul laporan berita lokal tentang praktik sekolah yang memicu debat nasional tersebut.

Praktik ini dijelaskan lumrah di sekolah-sekolah umum di seluruh Jepang. Tapi, siswa dan orangtua semakin menentangnya, termasuk peraturan yang sangat ketat untuk siswa, yang dikenal sebagai buraku kosoku.

“Para wali, serta penduduk kota menelepon untuk mengatakan bahwa pemeriksaan kaus ini adalah contoh pelecehan kekuasaan dan seksual.

Ini adalah contoh pelanggaran hak individu siswa, dan kami telah menyarankan sekolah untuk segera menghentikan metode tersebut,” Katsuo Yonekura, perwakilan dewan tersebut mengatakan.

 

Di Balik Aturan Pakai Kaus Dalaman

Pada era 70-an dan 80-an, buraku kosoku diperkenalkan untuk mengekang meningkatnya kasus kekerasan dan intimidasi siswa.

Tapi bahkan setelah angka pelanggaran merosot, banyak pembatasan tetap berlaku.

Aturan ini mencakup panjang rambut siswa, warna kaus kaki dan pakaian dalam, serta panjang seragam.

Penjelasan untuk peraturan ketat tersebut bervariasi, mulai dari menghormati tradisi, hingga masalah kesehatan siswa.

Menurut Koga, pihak sekolah tidak ingin siswa berkeringat, membasahi seragam dan membuat pakaian mereka “lengket dan berkeringat.” “Jika mereka memakai sesuatu yang menyerap keringat, itu juga dapat membantu mengatur suhu tubuh mereka dan terhindar dari penyakit,” katanya.

 

Tidak Diatur Cara Tradisional

Lebih lanjut ia mengatakan, pemeriksaan kaus dalam siswa tidak sering dilakukan.

Siswa tahun kedua dan ketiga jarang menjalani pemeriksaan karena dianggap tahu aturan.

Tapi siswa tahun pertama, banyak dari mereka yang tidak pernah mengenakan seragam sebelum masuk SMP, cenderung melanggar ketentuan itu.

“Kami juga baru pulang dari liburan musim panas, makanya fakultas mengecek kaus dalam mereka. Meski saya baru jadi kepala sekolah pada bulan April, saya mendengar bahwa pemeriksaan ini rutin dilakukan setiap beberapa bulan sekali,” katanya.

Meski hukuman berat jarang dijatuhkan, siswa umumnya ditegur karena melanggar aturan. Tapi, kata Koga, pemeriksaan yang jarang dan kurangnya hukuman ketika aturan dilanggar tidak membuat pemeriksaan kaus seperti itu diperbolehkan.

“Sejak laporan ini dipublikasikan, kami memiliki sejumlah siswa yang datang kepada kami dan mengatakan bahwa mereka sangat tidak nyaman,” katanya. “Beberapa aturan perlu diubah. Kami tidak harus diatur dengan cara tradisional, dan kami ingin memastikan lingkungan pendidikan memenuhi kebutuhan generasi ini.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *