Meskipun Hanya Sekolah Sampai Kelas 4 SD, Penyandang Difabel Ini Tetap Semangat Belajar Sendiri Hingga Jadi Jago Coding

Posted on

Tidak semua manusia memiliki fisik yang sempurna. Banyak orang yang kemampuan fisiknya terbatas seperti orang-orang difabel.

Seorang yang difabel bukanlah tidak mampu, melainkan hanya terbatas dalam melakukan aktivitas tertentu.

Seperti kisah pria yang satu ini, meskipun memeiliki keterbatasan fisik namun ia tetap semangat berkarya.

Pria tersebut adalah Hary Ardy Himawan (26), warga Desa Limpung, Kecamatan Limpung, Batang, adalah penyandang difabel dengan kemampuan menjadi programmer dan membuat coding aplikasi.

Tidak hanya dari dalam negeri, karya pria 26 tahun ini juga hingga dibeli klien dari luar negeri.

Ardy memang hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 4 SD saja, namun semangat belajarnya sangatlah tinggi.

Anak ketiga dari pasangan Gunarsih (53) dan Slamet (55) ini memang dikenal kerap menghabiskan waktu di dalam kamar dengan komputernya.

Gunarsih, ibu Ardy menyebut, anaknya mengalami kelumpuhan sejak di bangku kelas 4 sekolah dasar, karena divonis TBC tulang. Sejak saat itulah, Ardy tidak mau sekolah kembali.

“Kata dokter, terkena TBC tulang. Sehingga dari pinggang ke kaki, tidak berfungsi, ya lumpuh,” kata Narsih.

Sejak saat itu hingga kini, aktivitas di dalam rumah, saat ke kamar mandi pun, harus digendong. Kalau bukan ayahnya, ibunya lah yang akan menggendong.

“Kursi roda ada, tapi rumahnya sempit jadi kalau ke kamar mandi digendong. Kalau tidak bapaknya ya saya,” jelasnya.

Slamet, ayah Ardy, kesehariannya bekerja sebagai pengemudi truk. Dia mengaku, sejak lima tahun terakhir ini, aktivitas anaknya sebagian besar di kamarnya dengan otak-atik komputer.

“Waktu itu minta dibelikan komputer. Ya di dalam kamar otak-atik komputer. Anak saya belajar komputer sendiri, tidak ada gurunya, juga belajar bahasa Inggris juga di YouTube,” papar Slamet.

Melansir dari detikcom Ardy mengaku kemampuannya menjadi programmer dan membuat coding sebuah aplikasi ia dapat dari belajar melalui YouTube.

“Belajar sendiri melihat YouTube. Bahasa juga. Cuma kalau bahasa Inggris belum lancar,” katanya.

Ia menuturkan, kemampuannya, dalam hal coding untuk sebuah program aplikasi dipelajari secara otodidak. Ia belajar coding, bahasa pemrograman maupun membangun sebuah website dan merancang aplikasi dengan memanfaatkan layanan sejumlah platform berbasis android, IOS, windows dan Linux.

Ardy juga mengaku telah membuat beberapa coding untuk kebutuhan sebuah aplikasi seperti user Interface user experience (UI UX) dan pengembangan aplikasi lanjutan.

“Dari coding, sudah ada yang membelinya beberapa kali. Semuanya dari luar negeri. Ya, antara 100 hingga 150 dollar. Ya lumayan bisa untuk membayar internet, mengumpulkan uang untuk kembali membeli komputer lagi,” papar Ardy.

“Spek komputer saat ini, masih kurang bagus. Sehingga lama untuk prosesnya,” tambahnya.

Sementara itu, atas kemampuan programmer yang dimiliki Ardy ini, Bupati Batang, Wihaji, apresiasi atas karya Ardy.

Bahkan, pihaknya akan meminta Dinas Kominfo untuk melakukan pesanan aplikasi yang ditujukan untuk layanan warga masyarakat Batang.

“Saya lihat sendiri. Sulit untuk dibahasakan ya. Ini ketelatenan dan ketekunan serta semangat belajar yang luar biasa dari ananda Ardy ini. Bentuk apresiasinya akan kita support nanti,” kata Wihaji.

“Ada nanti Kominfo, potensi aplikasi apa yang nanti bisa dikerjakan Ardy ini. Semacam proyek kecil, sebuah aplikasi yang nantinya produk Batang. Intinya kita coba kasih ruang untuknya agar lebih bisa berkreasi,” tambahnya.

Pihaknya juga akan mendukung kebutuhan komputer sesuai dengan kemampuan Pemkab Batang.

“Intinya, di tengah keterbatasan yang ada, Ardy ini terus semangat, tidak mudah menyerah dalam berkarya,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *