Menyimpan Kisah Mengerikan, Pulau Ini Dulunya Merupakan Tempat Uji Coba Senjata Biologis

Posted on

Dari tepian daratan, pulau yang satu ini memang tampak sangat sepi dan damai. Namun pada tahun 1940-an ada cerita mengerikan di pulau ini.

Pulau ini bernama Gruinard, terletak diantara desa Gairloch dan Ullapool di dataran tinggi utara-barat Skotlandia, Britania Raya.

Di Pulau Gruinard, selama Perang Dunia Kedua, sekelompok tim ilmuwan dari fasilitas penelitian militer di Port Down menunjukkan kepada Winston Churchill tentang bahaya antraks, dan kelayakan penggunaan bakteri mematikan tersebut sebagai agen aktif senjata biologis.

Antraks adalah salah satu agen perang biologis yang paling dikenal, dan salah satu yang paling ditakuti. Menghirup spora antraks akan menginduksi gejala mirip flu seperti demam, batuk, nyeri dada, dan sesak napas karena cairan menumpuk pada rongga ada. Bila tidak diobati, kondisi pasien dengan cepat memuruk sehingga terjadi kematian dalam waktu 48 jam.

Sementara itu, penelanan spora bisa pula menyebabkan diare, pendarahan internal, sakit perut, mual dan muntah. Namun yang paling fatal, tingkat kematian akibat antraks mencapai 80 persen meski penderitanya sudah mendapatkan perawatan medis.

Antraks pertama kali digunakan dalam bentuk senjata dalam Perang Dunia Pertama oleh pemberontak Nordik melawan tentara Kekaisaran Rusia di Finlandia, meskipun keefektifan senjata tersebut tidak diketahui pasti.

Eksperimen manusia pertama dibuat oleh Unit 731 Angkatan Darat Jepang selama Perang Sino-Jepang Kedua di tahun 1930-an. Ribuan tahanan perang meninggal dunia setelah sengaja diinfeksi bakteri tersebut.

Pada tahun-tahun awal Perang Dunia Kedua, Sekutu mulai menyelidiki antraks. Ilmuwan Inggris tahu bahwa bakteri tersebut dapat bertahan dalam kondisi yang keras selama beberapa dekade atau bahkan berabad-abad.

Jadi mereka membutuhkan sebuah pulau terpencil dan tak berpenghuni di mana mereka bisa melakukan tes sekaligus tempat karantina. Pulau Gruinard ditemukan cocok untuk tujuan itu.

Pada tahun 1942, sekitar delapan puluh domba dibawa ke pulau itu dan bom berisi spora antraks kering meledak di dekat tempat domba-domba itu diikat.

Bakteri antraks yang dipilih untuk tes ini adalah jenis yang sangat ganas yang disebut ” Vollum 14578″ , dinamai R. L. Vollum, bakteriologis kelahiran Kanada yang pertama kali mengisolasinya dari seekor sapi di Oxford, Inggris. Dalam beberapa hari terpapar, domba-domba itu jatuh seperti lalat.

Para ilmuwan Inggris menyimpulkan bahwa pelepasan besar spora antraks di kota-kota di Jerman tidak hanya akan menghapus sebagian besar populasi, tapi juga akan membuat kota-kota tersebut tidak dapat dihuni selama beberapa dekade kemudian.

Ini menjadi misi ” Operasi Vegetarian” – sebuah rencana jahat untuk menjatuhkan kue biji rami yang terinfeksi antijam di atas ladang-ladang Jerman.

Kue ini akan dimakan oleh ternak, yang kemudian akan dikonsumsi oleh penduduk sipil, menyebabkan kematian jutaan warga Jerman. Selanjutnya, antraks akan mematikan sebagian besar ternak Jerman, menciptakan kekurangan pangan yang sangat besar untuk sisa populasi lainnya.

Lima juta kue disiapkan untuk disebarkan di Jerman. Beberapa kue juga diuji pada domba di Pulau Gruinard. Operasi Vegetarian hanya untuk digunakan jika Jerman melakukan langkah pertama dalam perang biologis, yang untungnya, tidak. Di akhir perang, kue-kue itu dihancurkan dalam sebuah insinerator.

Sementara itu, di Pulau Gruinard spora antraks menolak untuk mati sehingga membuat pulau ini tidak dapat dihuni selama hampir lima puluh tahun sampai 1986, ketika sebuah perusahaan Inggris dibawa untuk mendekontaminasi pulau tersebut.

Sebanyak 280 ton formaldehida disemprotkan ke pulau itu dan lapisan tanah yang terkontaminasi di sekitar lokasi penyebaran. Untuk melihat apakah pembersihan itu berhasil, segerombolan domba dilepaskan di pulau ini. Tidak ada efek buruk yang terlihat.

Akhirnya, empat tahun setelah tanah direndam dalam formaldehid, pulau itu dianggap aman untuk dikunjungi. Menteri Pertahanan sendiri mengunjungi pulau tersebut dan memindahkan tanda peringatan tersebut. Pada tahun 1990, pulau itu dijual kembali ke ahli waris pemilik aslinya dengan harga jual asli sebesar £ 500.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *